Aydul.com - Awalnya, saya hanya dengan santai mencari cara untuk menata kamar saya. Anda tahu, salah satu momen ketika segala sesuatunya terasa berantakan dan membebani, tetapi Anda bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Saat itulah saya pertama kali bertemu Marie Kondo. Pada awalnya, saya pikir dia hanyalah seseorang yang “sangat pandai membereskan.” Namun semakin aku melihatnya, semakin menarik latar belakangnya. Marie Kondo adalah seorang konsultan pengorganisasian asal Jepang yang memiliki minat dalam berbenah sejak ia masih muda. Rupanya, saat masih duduk di bangku sekolah, ia sudah gemar membaca buku-buku tentang organisasi dan kebersihan. Itu membuatku berpikir, “Mungkinkah seseorang begitu fokus pada hal seperti ini sejak kecil?”
Semakin banyak saya membaca dan menonton, saya menyadari bahwa metodenya bukan hanya tentang membersihkan. Melalui bukunya, The Life-Changing Magic of Tidying Up, ia memperkenalkan sebuah konsep unik: simpanlah hanya barang-barang yang benar-benar membuat Anda bahagia, atau apa yang disebutnya.memicu kegembiraan. Kedengarannya sederhana, tapi sejujurnya, ini lebih dalam dari yang diharapkan. Karena sering kali, kita menyimpan sesuatu bukan karena kita membutuhkannya, namun karena kita merasa “sia-sia jika kita membuangnya”.
Marie Kondo juga dikenal dengan metode KonMari-nya, yang berfokus pada pengorganisasian berdasarkan kategori, bukan berdasarkan lokasi. Jadi, alih-alih membersihkan ruangan demi ruangan, Anda merapikannya berdasarkan jenis barang—seperti pakaian, buku, dan barang-barang sentimental. Pada awalnya mungkin terdengar sepele, namun pendekatannya sebenarnya sangat bijaksana. Dia mengajarkan kita untuk menyadari sepenuhnya apa yang kita miliki.
Seiring saya terus belajar, saya mulai menyadari bahwa apa yang dia ajarkan bukan hanya tentang benda fisik. Ini sebenarnya tentang cara hidup. Dan tanpa saya sadari, saya mulai menghubungkan ide ini dengan kehidupan saya sehari-hari—terutama jika menyangkut soal waktu. Karena sejujurnya, waktu kita bisa terasa “berantakan”. Terlalu banyak hal yang masuk tanpa disaring. Terlalu banyak aktivitas yang dilakukan tanpa benar-benar memikirkan penting atau tidaknya. Saya sendiri pernah ke sana. Hari-hari terasa penuh, namun hasilnya tidak. Sibuk, tapi kosong.
Saat itulah saya mulai menerapkan pola pikir Marie Kondo dalam cara saya menggunakan waktu saya.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri pertanyaan sederhana:
Perlahan, saya menjadi lebih selektif. Tidak semuanya harus dilakukan. Tidak semua undangan harus diterima. Dan tidak setiap momen harus diisi. Perubahan kecil ini membuat perbedaan yang nyata. Hari-hariku mulai terasa lebih ringan, dan yang lebih penting, lebih terarah.
Kini, saya tidak lagi merasa perlu untuk selalu sibuk. Sebaliknya, saya lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Saya juga mulai membatasi gangguan, seperti scrolling tanpa berpikir atau aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah. Saya tidak sempurna dalam hal itu, tapi setidaknya saya lebih sadar sekarang. Menariknya, semua ini bermula dari rasa penasaran sederhana terhadap satu orang—Marie Kondo. Dan dari situ, saya belajar sesuatu yang penting: hidup tidak harus diisi dengan banyak hal agar terasa bermakna. Terkadang, dengan memiliki lebih sedikit, kita sebenarnya menemukan hal yang benar-benar penting.
Ngomong-ngomong, tulisan ini murni berdasarkan ide dan pengalaman pribadi penulis, bukan hanya teori. Semua yang dibagikan di sini berasal dari apa yang benar-benar saya rasakan dan alami. Sekarang, saya melihat waktu secara berbeda. Ini bukan lagi sesuatu yang harus saya kejar terus-menerus, tetapi sesuatu yang perlu saya jaga. Dan kalau dipikir-pikir, mungkin yang kita butuhkan hanyalah sedikit “merapikan”—bukan hanya barang-barang kita, tapi juga cara kita menjalani hidup.
ARTIKEL TERKAIT
Get notified when new articles are published